| |
|
|
|
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
Nasruddin Hodja - HIDANGAN UNTUK BAJU Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Nasrudin menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya.
Dengan kecewa Nasrudin pulang kembali.
Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuan Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.
Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu! Untuk mana ia memberikan alasan Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku. "
...baca selengkapnya (698 clicks)
|
|
Nasruddin Hodja - KEKEKALAN MASSA Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah.
Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."
Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya.
Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal
duri-durinya saja. "Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"
Istrinya menjawab," Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"
Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan,
dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke
timbangan, dan ditimbangnya.
Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras, "Ikanku tadi dua
kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau
kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu
mana kucingnya ?"
...baca selengkapnya (431 clicks)
|
|
Nasruddin Hodja - ORIENTASI PADA BAJU Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Nasrudin diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban.
Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah.
Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa
kudanya ke rumah.
Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang
takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya
basah, padahal kuda mereka lebih cepat. Itu berkat kuda yang kau
pinjamkan padaku, ujar Nasrudin ringan.
Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Nasrudin dipinjami kuda yang
cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama
kemudian hujan kembali turun deras.
Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah
lagi. Sementara itu, Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari
sebelumnya. Sampai rumah, Nasrudin tetap kering.
"Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah, "Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!"
"Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju." Jawab Nasruddin
...baca selengkapnya (325 clicks)
|
|
Nasruddin Hodja - PADA SEBUAH KAPAL Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Nasrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan,
tetapi Nasrudin selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk.
Orang-orang tak mengindahkannya.
Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar
menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang
mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka
berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika
mereka selamat.
Teman-teman! teriak Nasrudin. "Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku melihat daratan!"
...baca selengkapnya (418 clicks)
|
|
Nasruddin Hodja - YANG BENAR-BENAR BENAR Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia
mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak
tersangkalkan dari jaksa.
Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri.
Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat.
Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan
sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah !
Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar: "Aku rasa engkau pun benar. "
...baca selengkapnya (433 clicks)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|