| |
|
|
|
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
Nasruddin Hodja - PERIUK BERANAK Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia
mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya.
Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.
"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat."
Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.
Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun
kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar,
dan ia pun datang ke rumah Nasrudin, Sambil terisak-isak, Nasrudin
menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah
menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah
kumakamkan."
Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!"
"Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nasrudin, sambil menghentikan isaknya.
...baca selengkapnya (212 clicks)
|
|
Nasruddin Hodja - MISKIN DAN SEPI Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung
terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya.
Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya
habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya. Ketika ia
benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan
pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara
untuk memohon berkah.
"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.
"Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali.
Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."
Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"
"Bukan begitu maksudku, kau salah tafsir, Maksudku, dalam waktu yang
tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan
tidak mempunyai teman." jawab Nasruddin
...baca selengkapnya (206 clicks)
|
|
Nasruddin Hodja - JANGAN TERLALU DALAM Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus
suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu
untuk menandatangani perjanjian itu.
Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si
hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka
Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.
Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi
sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan
mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan
Pak Hakim.
Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.
Nasrudin kemudian bertanya, "Tuan Hakim, apakah pantas Tuan Hakim
mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"
Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya."
Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Nasrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam meencoleknya."
Dan berlalulah Nasrudin.
...baca selengkapnya (276 clicks)
|
|
Nasruddin Hodja - CARA MEMBACA BUKU Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Seorang yang filosof dogmatis sedang meyampaikan ceramah. Nasrudin
mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering
menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah
didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik,
dianalogikan dengan cara yang tidak semestinya.
Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri.
Nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali.
Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi
halaman, berdiam diri. Lama sekali.
Sang penceramah mulai kesal. "Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!"
"Aku tahu," jawab Nasrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya
hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan
pikiranmu."
...baca selengkapnya (323 clicks)
|
|
Nasruddin Hodja - Face at the window Submited by : Irwan on Saturday, 13-August-2005 |
Nasreddin Hodja called at a large house to collect for charity.
The servant said:"My master is out."
Hodja replied, "Tell your master that next time he goes out, he should not leave his face at the window. Someone might steal it."
...baca selengkapnya (172 clicks)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|