Indonesian Version | Home | Guest Book | Login
 
Saturday, 11-September-2010 Saba'ah, 2-Syawal-1431
 

 
 
Share |
Home / Article / Muhasabah


Muhasabah 19 Article
Start
|<
Prev
<<
16 - 19 (of 19 articles) Next
>>
End
>|
Jalaludin Rumi - Burung Beo
Submited by : irwan on Wednesday, 14-January-2009

Seorang penjual sayuran
mempunyai seekor burung beo
yang pandai sekali berbicara.
Ia terkenal duduk di luar warung
dan saling bersenda-gurau
dengan pembeli.
 
Suatu hari,burung beo itu terbang dari tenggerannya dan
menumpahkan sebotol minyak mawar yang mahal.
Ketika pemilik mengetahui apa yang telah terjadi, ia
murka, dan memukul kepala burung itu keras-keras
sampai bulu-bulunya rontok,
dan menjadikan kepalanya botak.
Burung beo itu sangat terkejut sampai-sampai
ia tidak pemah berbicara lagi.

Penjual itu sangat sedih dan menyesal sekali
Ia memohon kepada setiap sufi yang lewat
agar membujuk beo itu untuk berbicara lagi,
tetapi tidak ada yang berhasil.

Demikianlah, sampai satu hari,
seorang guru yang berkepala botak
datang ke warung itu, dan beo itu
menatap dan berkata, "Maaf! Apakah engkau juga
menumpahkan sebotol minyak mawar?"
Semua orang yang ada di warung tertawa,
tetapi berapa banyak di antara kita juga memproyeksikan
pengalaman kita sendiri pada orang lain,
dan benar-benar menyalahpahami kebenaran?

...baca selengkapnya (320 clicks)
Jalaludin Rumi - Gajah India
Submited by : irwan on Wednesday, 14-January-2009

Beberapa orang India menaruh seekor gajah di dalam ruangan gelap.
Karena tidak mungkin melihat gajah dalam kegelapan
orang-orang yang ingin mengetahui binatang luar biasa
ini harus merabanya dengan tangan mereka.

Orang pertama masuk ke ruangan gelap itu
dan meraba belalai gajah dan menyatakan,
"Mahluk ini adalah seperti pipa air."

Orang berikutnya meraba telinga gajah dan menegaskan,
'Tidak. la seperti sebuah kipas raksasa."

Orang ketiga meraba kaki gajah dan mengatakan
"Salah itu. Binatang ini menyerupai tiang."

Orang keempat merasa punggung gajah dan menyimpulkan,
"Salah sama sekali. Ia seperti singgasana."

Sudut-pandang yang berbeda melahirkan pendapat yang berbeda.
Bila seseorang membawa masuk lilin, mereka semua tentu merasa seperti orang-orang bodoh.

...baca selengkapnya (205 clicks)
Jalaludin Rumi - Musa Dan Penggembala
Submited by : irwan on Wednesday, 14-January-2009

Suatu hari, Musa bertemu penggembala tua
yang rendah hati di gurun, yang tengah bicara sendiri
pada Allah. Nada si penggembala tenang dan akrab. Ia
mengatakan kepada Allah betapa ia ingin
membantu-Nya, membersihkan kutu-kutu dari-Nya,
Mencucikan pakaian-Nya, mencium kaki dan tangan-Nya.
la akhiri doanya dengan,
"Di kala aku memikirkan-Mu,
aku hanya dapat mengatakan 'Ahhhhh!'"

Musa terkejut dan berseru,
"Sadarkah engkau bahwa engkau
tengah berbicara kepada Pencipta Langit dan Bumi,
bukan kepada pamanmu?!"

Gembala itu merasa sangat bodoh dan bertanya
kepada Musa apakah, menurutnya,
Allah mau memaafkannya.

Akan tetapi, ketika gembala itu mulai mengelana
dengan rasa sangat sedih di gurun
untuk menyesali dosanya, suara Tuhan berkata kepada
Musa, dengan memarahinya.
"Musa, apa yang bagimu tampak salah adalah benar
baginya. Racun bagi seorang manusia adalah
madu manusia lainnya. Kesucian dan kekotoran,
kelambanan dan ketekunan— apakah itu penting
bagi-Ku? Aku tak terpengaruh oleh semua itu.

Cara beribadah tak dapat dikategorikan     1
lebih baik atau lebih buruk,
itu adalah pujian dan dapat diterima.

Sang hamba sajalah yang diagungkan
oleh ibadah—bukan Aku.

Aku tidak mendengarkan perkataan.

Aku melihat ke dalam kerendahan hati.

Hanya kehampaan hina dan jujur sajalah yang hakiki.

Lupakan bahasa—Aku ingin terbakar! Terbakar!
Bersahabatlah dengan api ini.
Bakarlah ide-ide h ...baca selengkapnya (263 clicks)

Jalaludin Rumi - Orang Tuli
Submited by : irwan on Wednesday, 14-January-2009

Tetangga seorang yang tuli sedang sakit. la berpikir:
"Kalau aku tandangi pemuda malang ini,
aku takkan dapat mendengar apa yang dikatakannya.
Akan tetapi, bila aku tidak pergi,
ia akan menganggapku kejam.

Aku hanya mesti menebak apa yang dikatakannya.
Pertama aku akan katakan:'Bagaimana perasaanmu, sobatku yang malang.'
Ia akan menjawab:'Aku baik-baik saja' atau semacam itu.
Lalu aku katakan:'Alhamdulillah. Engkau mesti minum apa?'
Ia akan menjawab, 'Serbat' atau mungkin 'Sup buncis,'
dan aku akan katakan, 'Bagus sekali! Dokter siapa yang merawatmu?'
Ia akan menjawab, 'Dr. Anu,' dan aku akan katakan, 'Bagus.

...baca selengkapnya (267 clicks)
Start
|<
Prev
<<
16 - 19 (of 19 articles) Next
>>
End
>|
   

Pondok Pesantren Al Quran AL Falah I
Jl. Kapten Sangun 6 Cicalengka, Bandung 40395 Indonesia
Phone : +62 (22) 794 9232, +62 (22) 7072 1632, Fax : +62 (22) 794 8748

Pondok Pesantren Al Quran AL Falah II
Jl. Raya Nagreg Km 38 Pamucatan Nagreg, Bandung 40397 Indonesia
Phone : +62 (22) 795 1035, +62 (22) 795 1192, Fax : +62 (22) 794 1014

Sitemap | Term of Use | Netiquete



There are currently 0 user and 10 guest that are online online
powered by e-mushaf ®
Copyright © 2008 by Irwan Winardi