Suatu hari, Musa bertemu penggembala tua yang rendah hati di gurun, yang tengah bicara sendiri pada Allah. Nada si penggembala tenang dan akrab. Ia mengatakan kepada Allah betapa ia ingin membantu-Nya, membersihkan kutu-kutu dari-Nya, Mencucikan pakaian-Nya, mencium kaki dan tangan-Nya. la akhiri doanya dengan, "Di kala aku memikirkan-Mu, aku hanya dapat mengatakan 'Ahhhhh!'"
Musa terkejut dan berseru, "Sadarkah engkau bahwa engkau tengah berbicara kepada Pencipta Langit dan Bumi, bukan kepada pamanmu?!"
Gembala itu merasa sangat bodoh dan bertanya kepada Musa apakah, menurutnya, Allah mau memaafkannya.
Akan tetapi, ketika gembala itu mulai mengelana dengan rasa sangat sedih di gurun untuk menyesali dosanya, suara Tuhan berkata kepada Musa, dengan memarahinya. "Musa, apa yang bagimu tampak salah adalah benar baginya. Racun bagi seorang manusia adalah madu manusia lainnya. Kesucian dan kekotoran, kelambanan dan ketekunan— apakah itu penting bagi-Ku? Aku tak terpengaruh oleh semua itu.
Cara beribadah tak dapat dikategorikan 1 lebih baik atau lebih buruk, itu adalah pujian dan dapat diterima.
Sang hamba sajalah yang diagungkan oleh ibadah—bukan Aku.
Aku tidak mendengarkan perkataan.
Aku melihat ke dalam kerendahan hati.
Hanya kehampaan hina dan jujur sajalah yang hakiki.
Lupakan bahasa—Aku ingin terbakar! Terbakar! Bersahabatlah dengan api ini. Bakarlah ide-ide h
...baca selengkapnya (263 clicks)
|